Pandangan-pandangan Penentuan Khalifah

Posted: June 25, 2010 in artikel syiah

–         pandangan pertama: penentuan kholifah dengan menggunakan cara musyawarah.

Mari kita lihat teori penentuan imam dan kholifah dengan cara mengadakan pemilu. Yaitu bahwasannya apakah nabi Muhammad pada saat hidupnya, beliau mengatakan kepada umatnya bahwasannya saya tidak menentukan pemimpin sepeninggal ku. Aku mewakilkannya kepada kalian  untuk memilih pemimpin setelahku. Dengan mengadakan musyawarah antara kalian. Apakah rasul melakukan atau menyuruh ummatnya melakukan hal semacam itu. Jelas tidak mungkin rasul mengatakan kepada ummatnya hal yang semacam itu. Dan juga tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa rasul melakukan hal tersebut. Teori yang ada di atas ini merupakan kepercayaan ahlu sunnah.

pandangan ke dua : penentuan kholifah merupakan masalah ilahi.

Mari kita lihat teori yang ke dua, yakni bahwasanya penentuan itu merupakan masalah ilahiyah. Allah SWT yang memilih para imamnya yang kemudian rasul menyampaikannya kepada umat muslim. Karena Allah yang lebih mengetahui urusan-urusan semacam ini. Karena seorang imam atau seorang pemimpin haruslah ma’sum. Apabila tidak ma’sum, maka banyak orang yang tidak mempercayai undang-undang dari Allah SWT. Dan Allah SWT berfirman :

“ Allah SWT lebih mengetahui di mana dia menempatkan tugas kerasulan ”(QS.Al-an’am : 124)

“ Allah SWT memilih siapa yang di kehendakinya di antara rasul-rasulnya. “ (QS. Ali-imran : 179).

Dengan demikian pemilihan nabi, rasul, imamah adalah hak allah mutlak. Dan teori ini di yakini oleh mazhab syiah.

– penentuan kholifah melalui nash atau musyawarah ?

Telah jelas dan gamblang apa yang tertera di atas tadi. Dan semua ulama setujuh apabila sesuatu masalah telah di tetapkan oleh Allah SWT dan Rasulnya secara jelas, maka memilih yang lain dari ketetapan Allah tidaklah boleh. Dengan kata lain, apabila telah ada nash, maka orang tidak boleh berusaha mencari hukum lain dari pada yang yang telah di tetapkan nash. Apabila telah ada nash tentang sesuatu, maka tidaklah boleh melakukan ijtihad mengenai masalah tersebut. Demikian pula tentang pemilihan Nabi, Rasul, dan Imamah, yang telah di tentukan nashnya.

Allah SWT berfirman :

“ Tuhanmu telah berfirman dan memilih apa yang ia kehendaki. Bagi mereka tiada pilihan. Maha suci Allah dan maha tinggi di atas sekutu-sekutu yang mereka sekutukan dengannya. “ (QS. Al- Qashash : 68)

Ayat ini menunjukkan dengan tegas bahwa manusia tidak boleh memilih selain apabila telah ada nash tau ketetapan dari Allah SWT. Dan menunjukkan bahwa kepemimpinan itu adalah janji Allah SWT, sedang manusia tidak mempunyai hak untuk memilih. Imamah adalah hak mutlak dari Allah SWT. Karena Allah yang memilih dan menentukannya. Dan bagaimana ayat yang menjelaskan demikian :

“ Dan bermusyawarahlah kalian dalam urusan-urusan. “ (QS. Ali- Imran : 157)

Ayat ini tidaklah bertentangan dengan ayat yang di kutipkan sebelumnya. Karena sebagaimana yang telah di jelaskan tadi, apabila telah jelas nash dari sesuatu masalah, maka tidaklah boleh di musyawarakan lagi. Para ulama sependapat bahwa segala sesuatu dapat di musyawarahkan. Kecuali apabila masalah tersebut belum di tentukan oleh Allah dan Rasulnya. Tapi jika masalah imamah tidaklah boleh dengan musyawarah, karena telah di tentukan oleh Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s