Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah saw di Ghadir Khum, setelah haji wada’, di hadapan kurang lebih 150.000 sahabat, di bawah terik matahari yang sangat panas, sambil memegang tangan Imam Ali bin Abi Thalib (as). Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang paling mutawatir, tidak ada satupun hadis Nabi saw yang melebihi kemutawatiran hadis Al-Ghadir.

من كنت مولاه فعـلي مولاه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, dan musuhi orang yang memusuhinya.”

من كنت مولاه فإنّ عليّاً مولاه، اللهمّ عاد من عاداه ووال من والاه

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka sesungguhnya Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, musuhi orang yang memusuhinya, dan cintai orang yang mencintainya.”

Zaid bin Arqam juga mengatakan bahwa Rasulullah saw:

من كنت وليّه فهذا وليّه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه

“Sesungguhnya Allah adalah pemimpinku dan aku adalah pemimpin setiap mukmin.” Kemudian beliau memegang tangan Ali (as) seraya bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan pemimpinnya, maka ini adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, dan musuhi orang yang memusuhinya.”

من كنت مولاه فهذا عليّ مولاه

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpin, maka ini Ali adalah pemimpinnya.”

Hadis-hadis tersebut terdapat di dalam:
1. Shahih Muslim, jilid 4/1873, Dar Fikr, Bairut.
2. Shahih Tirmidzi, jilid 5, halaman 297, hadis ke 3797.
3. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 45, hadis ke 121.
4. Musnad Ahmad jilid 5, halaman 501, hadis ke18838, halaman 498, no: 18815, cet Bairut.
5. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368 dan 372.
6. Musnad Ahmad bin Hamnbal, jilid 1, halaman 88, cet.pertama; jilid 2, halaman 672, dengan sanad yang shahih; jilid 4, halaman 372. cet. Pertama.
7. Khashaish Amirul mu’minin (as), halaman 96, cet Kuwait 1406 H.
8. Fadhilah ash-Shahabah, halaman 15, Dar kutub ilmiyah, Bairut.
9. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 533, Dar fikr, Bairut 1398 H.
10. Majma’ az-Zawaid, jilid 9, halaman 104-105, Dar kitab Al-Arabi, Bairut 1402 H.
11. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 213, hadis ke: 271,277,278,279,281,460,461 dan 465; jilid 2, halaman 14, hadis ke: 509,510,519,520,524,525,529,530,531,533,534,536,537,538,540,541,542,551,554,555,556,557,563,564,574,575,577,578,579 dan 587,cet. Pertama, Bairut. Read the rest of this entry »

Pengangkatan Umar dan Utsman

Posted: July 30, 2010 in artikel syiah

–         Pengangkatan Umar.

Setelah menjabat kholifah lebih dari 2 tahun, Abu bakar jatuh sakit, di atas tempat tidurnya, ia menyuruh orang memanggil Abdur rahman, dan kemudian Ustman menyampaikan keputusan untuk menunjuk Umar bin khattab sebagai kholifah yang akan menggantikan Abu bakar. Mendengar hal ini, beberapa sahabat terkemuka, yang di kepalai oleh Thalhah, mengirim delegasi menemui Abu bakar, dan berusaha meyakinkannya supaya tidak menunjuk Umar untuk menggantikan sebagai kholifah.

Abu bakar tidak merubah keputusannya, ia membuat surat wasiat yang berbunyi :

“Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.”

Ini adalah wasiat kepada kaum muslimin, dari saya Abu bakar saya telah mengangkat Umar sebagai kholifah setelahku untuk kalian maka dengarkanlah dan turuti dia. Saya membuat dia menjadi penguasa atas kalian semata-mata untuk kebaikan kalian. (Kitab Tarikh jilid 2 hlm 136)

Tidak ada catatan sejarah bahwa Abu bakar memusyawarahkan  dengan masyarakat dan tidak pula dengan para sahabat atau dari ahlul bait. Penunjukkan ini semata-mata berdasarkan keputusan pribadi Abu bakar. Suatu hal yang menarik adalah kesamaan keadaan Abu bakar dan Rasul, tatkala membuat wasiat. Banyak ulama mempertanyakan sikap Umar yang menerima wasiat Abu bakar tetapi tidak memberi kesempatan Rasulullah untuk membuat wasiat.

pengangkatan ustman bin affan

setelah menjabat kholifah selama 10 tahun, Umar bin khattab mengangkat 6 orang sahabat dari kaum muhajirin yang terkemuka untuk memilih diantara sesama mereka seorang khalifah. Badan yang terdiri dari 6 orang ini kemudian di namakan Syura permusyawaratan.

Syura ini terdiri dari : Ustman bin affan, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad abi waqqas, Ali bin abi Thalib, Zubair, thalhah, serta Abdullah bin Ammar (anak Umar). Mereka yang bertindak sebagai penasihat dan tidak berfungsi sebagai calon.

Dalam melakukan tugas pemilihan khalifah pengganti dari Umar telah menetap tata tertib sebagai berikut :

1-     Khlifah yang akan dipilih haruslah anggota dari badan tersebut

2-     Bila dua calon mendapatkan dukungan yang sama besar, maka calon yang didukung oleh abdurrahman bin Auf yang di anggap menang.

3-     Bila ada anggota dari badan ini yang tidak mau mengambil bagian dalam pemilihan, maka anggota tersebut harus dipenggal kepalanya.

4-     Apabila seseorang telah terpilih dan minoritas, maka kepala mereka harus dipenggal, apabila ada calon yang didukung oleh abdurrahman bin Auf, dan sebagian lagi menolak maka kepalanya harus dipenggal.

5-     Apabila dalam waktu 3 hari tidak berhasil memilih khalifah maka ke 6 anggota harus di penggal kepalanya dan menyerahkan kepada rakyat untuk mengambil keputusan.

Kemudian Abdurrahman bin Auf mengajukan syarat kepada Imam Ali, yang dimana syarat tersebut tidak mungkin diterima Imam Ali dan hanya formalitas belaka. Abdurrahman bertanya kepada Imam Ali. “apabila anda terpilih sebagai khalifah, dapatkah anda berjanji bahwa anda akan bertindak menurut al-qur’an, sunnah Rasul, dan mengikuti peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan dari khalifah sebelumnya..?”

Imam Ali menjawab “mengenai al-qur’an dan sunnah Rasul, saya akan mengikutinya dengan penuh keimanan dan kerendahan hati. Namun, mengenai peraturan-peraturan dari ke-2 khalifah yang terdahulu, apabila sesuai dengan al-qur’an dan sunnah Rasul, maka akan tidak menolaknya! Tetapi bila bertentangan dengan al-qur’an dan sunnah Rasul, siapa yang akan menerima dan mengikutinya! Saya menolak peratuaran-peraturan tersebut.

Tatkala pertanyaan diatas itu diajukan kepada Ustman, ia menerima persyaratan itu, ia menerima persyaratan itu. Abdurrahman bin Auf lalu berkata pada Ali : “Baitlah atauku penggal lehermu! Atau kami tidak akan memberi jalan lain kepadamu!

Suatu kesimpulan lain yang dapat ditarik dari tanya jawab ini ialah kenyataan bahwa ada terdapat perbedaan-perbedaaan yang jelas antara Abu bakar dan Umar di satu sisi dan Ali disisi lainnya dengan adanya penolakan Ali terhadap peraturan dan keputusan yang dibuat oleh para khalifah yang sebelumnya.

1-     Keenam anggota syura tersebut di angkat sendiri oleh Umar bin Khattab

2-     Tiada seorang pun sahabat dari kaum Anshar diantara anggota syura tersebut.

3-     Susunan anggota syura dan syarat yang diajukan Abdurrahman bin Auf, tidak memungkinkan Ali terpilih.

-perbedaan pendapat

Selama 24 tahun, yaitu selama pemerintahan Abu bakar, Umar dan Ustman. Ali bin abi Thalib hampir tidak keluar dari rumahnya, seakan-seakan ia bukan warga dari umat itu. Hanya sesekali ia memberikan pendapat, apabila dimintai Umar. Ada perkataan yang berbunyi “Apabila tidak ada Ali, celakalah Umar!” dan “mudah-mudahan jangan datang kesulitan apabila Ali tidak ada”

Tetapi orang meragukan sampai sejauh mana Umar mendengarkan pendapat Ali. suatu hari Imam Ali di masukkan dalam majelis permusyawaratan para kholifah, dan meskipun ia di minta untuk memberi nasihat dalam masalah hukum. Karena ia menguasai Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Sangatlah meragukan apakah nasihatnya akan di terima oleh Umar yang sebenarnya memegang kuasa, bahkan dalam kekholifahan Abu bakar sekalipun.

Di samping keyakinan Ali akan Imamah yang berdasarkan nash. Yang menjadi haknya. Ia juga berbeda pendapat dengan 3 kholifah sebelumnya dalam masalah-masalah keagamaan. Hal ini nyata sekali, apabila kita lihat bahwa pikiran-pikiran Umar mendapat tempat di kalangan mazhab Sunnih, sedangkan Imam Ali di kalangan Syiah. Dalam segi politik maupun administrasi, Ali juga berbeda pendapat dalam masalah pembagian gaji tahunan, misalnya Ali mengubahnya tatkala ia menjadi kholifah di kemudian hari.

Suatu pertanyaan akan muncul setelah kita lihat sikap Ali yang dengan tegas menolak pengangkatan Abu Bakar di Saqifah, dengan alasan bahwa Rasul telah menunjuknya sebagai pengganti setelah Rasul. Mengapa Ali tidak melawan dengan kekerasan atau dengan cara yang lainnya untuk merebut kembali apa yang menjadi haknya ? dapat di katakan di sini bahwa sebenarnya memang ada kesempatan untuk itu. Seperti perkataan Imam Ali “ Apabila aku mempunyai 40 orang pengikut, maka aku akan pergi merebut hakku dari mereka dengan cara kekerasan.”

Adapun pada saat wafat Rasul. Abbas berkata kepada Ali agar dirinya (Abbas) membaiat Ali. tetapi Ali tidak mau mendengarkanya. Agaknya Ali menolak pembaiatan dari pendukungnya, karena beberapa pertimbangan sebagai berikut :

  1. Ali berpendapat bahwa penguburan Rasul harus di dahulukan dari segala-galanya dan hal ini telah di ketahui oleh Abu Bakar dan Umar.
  2. Ia merasa telah di tunjuk oleh Rasul sebagai penggantinya. Dan ia tidak menyangka akan timbul peristiwa seperti yang terjadi di Saqifah.

Sesudah itu, Ali biasa menuggangi keledai bersama istrinya Fatimah untuk mencaridukungan. Tetapi orang-orang berkata kepada Fatimah. “ Wahai putri Rasul. Kami telah membaiat Abu Bakar. Andai suamimu datang lebih dulu, maka kami tidak akan memilih yang lain.”

Ali menjawab : “Sungguh memalukan !. apakah anda mengharapkan saya meninggalkan jenazah Rasul dan melibatkan diri dalam perjuagan untuk mendapatkan kekuasaan.”

Fatimah sering mengatakan bahwa Ali telah melakukan apa yang harus di lakukannya, dan Allah SWT akan menanyai mereka tentang apa yang mereka lakukan terhadap Ali.

Munculnya Dua Mazhab

Posted: July 16, 2010 in artikel syiah

Peristiwa Saqifah telah memunculkan dua aliran ke permukaan bumi, yang satu mengikuti tradisi ketiga kholifah, meskipun Ali di masukkan ke dalam khulafa’ar Rasyidin, tetapi buah pikiran Ali yang bagaimanapun berlandaskan agama secara murni, sekurang-kurangnya menurut keyakinan Ali dan para pengikutnya. Buah pikirannya dalam sosial politik maupun fiqih ini tidak dapat tempat di kalangan ini. Kalaupun ada orang-orang mengemukakan pendapat Ali, maka ini sekedar menunjukkan kerukunannya dengan ke 3 kholifah. Dan usaha Umar secara teratur untuk menyingkirkan Imam Ali dari arena politik. Kutukan terhadapnya dalam setiap khotbah jum’at selama lebih dari 80 tahun oleh kekuatan politik yang menyusul kemudian, serta permusuhan dan penindasan terhadap para pengikut Ali, hampir menghilangkan buah pikiran Ali dalam aliran ini. Aliran ini makin melembaga dan kemudian di kenal sebagai Ahlu Sunnah.

Aliran lainnya mengikuti Ali yang di kenal sebagai Syiah, yang sebenarnya telah ada di zaman Rasul. Salman Al- Farisi, Abu Dzarr, Miqdad, dan Ammar bin Yatsir di sebut sebagai 4 tonggak Syiah.

Sahabat dan para pengikut Ali berpendapat bahwa Ali bin Abi Tholib adalah pemimpin sesudah Rasul. Ali di anggap paling dekat dengan Rasul SAW. Dalam darah, keimanan, ilmu, kesabaran, zuhud, berani, ia mengikuti Al-Qur’an dan sunnah Rasul secara utuh dalam perkataan maupun perbuatan, ia di anggap telah di tunjuk Allah dan Rasulnya sebagai imam kaum muslimin yang masih dalam masa “ bayi” yang sedang berkembang pesat. Dengan demikian reaksi dari para pengikutnya sehubungan dengan peristiwa Saqifah bukanlah masalah politik yang menuntut kekuasaan. Bagi mereka itu adalah masalah agama semata-mata sebagai reaksi wajar atas “penyimpangan” yang sebenarnya dapat di pahami dengan melihat catatan sejarah dari kalangan Sunni sendiri.

Biografi Ayatullah Sayyid Hussein Fadlullah

SUMBER: Irib


Ayatullah al-Udzma Sayyid Muhammad Hussein Fadlullah lahir tahun 1354 Hq di ‎kota suci Najaf dari sebuah keluarga ulama.‎

Allamah Hussein Fadlullah melewati masa kecil dan pendidikannya di bawah ‎bimbingan ayahnya, Sayyid Abdurrauf Fadlullah, marji Syiah masa itu. Hussein ‎Fadlullah kecil ikut sekolah tradisional masa itu dan mempelajari bagaimana ‎membaca, menulis dan qiraah al-Quran. Namun pendidikan keras yang diterapkan ‎oleh sekolah itu yang dikelola oleh seorang tua membuat Hussein Fadlullah tidak ‎betah belajar di sana. Dengan segera ayahnya mencarikan sebuah pusat ‎pendidikan bernama Muntada an-Nasyr yang menggunakan metode pendidikan ‎baru.‎

Hussein Fadlullah langsung duduk di kelas tiga dan ketika duduk di kelas empat ia ‎meninggalkan sekolah dan memulai pendidikan agamanya di usia 9 tahun. ‎Berbarengan dengan pendidikan agamanya, Hussein Fadlullah mulai ‎memperhatikan perkembangan yang terjadi di masanya. Hussein Fadlullah ‎mengikuti perkembangan yang ada lewat membaca majalan-majalah Mesir. ‎Lebanon dan tidak lupa majalah Irak.‎

Sayyid Muhammad Hussein Fadlullah mempelajari sejumlah pelajaran seperti ‎nahwu, sharf, ma’ani, bayan hingga logika dan ushul fiqih pada ayahnya. Pada ‎masa itu ia tidak berguru pada orang lain. Ketika pelajarannya sampai pada buku ‎Kifayah al-Ushul jilid kedua, Sayyid Hussein Fadlullah akhirnya berguru pada ‎seorang ulama bernama Mojtaba Lankarani, ulama dari Iran.‎

Setelah menyelesaikan buku Kifayah al-Ushul, Sayyid Hussein Fadlullah mengikuti ‎kuliah tingkat tinggi (bahts kharij) pada sejumlah marji antara lain, Sayyid Abul ‎Qasin Khu’i, Sayyid Muhsin al-Hakim, Sayyid Mahmoud Shahroudi dan Syeikh ‎Hussein al-Hilli. Di samping mempelajari mata-mata kuliah fiqih dan ushul fiqih, ‎Hussein Fadlullah juga mempelajari sebagian dari buku al-Asfar al-Arba’ah, buku ‎filsafat yang lebih dikenal dengan al-Hikmah al-Muta’aliyah karya Mulla Shadr pada ‎gurunya Badkubeh. Sayyid Hussein Fadlullah juga sempat belajar pada Sayyid ‎Muhammad Baqir Shadr selama lima tahun. Gurunya Sayyid Khu’i menasihatinya ‎agar menyeriusi pelajarannya bersama Syahid Shadr.‎

Pada tahun 1952, di usia 17 tahun untuk pertama kalinya Hussein Fadlullah ‎menuju Lebanon untuk menengok keluarganya di sana. Perjalanannya bersamaan ‎dengan peringatah hari ke-40 meninggalnya Sayyid Muhsin Amin al-‘Amili. Hussein ‎Fadlullah kemudian membacakan kasidah memuji ketokohan dan kepribadian ‎Sayyid Muhsin al-‘Amili.‎

Dalam kasidah yang dibacakannya, Sayyid Hussein Fadlullah banyak ‎menyinggung masalah politik, termasuk persatuan dan kebangkitan Islam serta ‎mencela imigrasi para pemuda dan imperialisme Perancis.‎

Surat-surat kabar Lebanon waktu itu menilai kasidah yang diucapkan Sayyid ‎Hussein Fadlullah sangat provokatif.‎

Pada tahun 1966, sejumlah pendiri organisasi keagamaan Usrah al-Taakkhi yang ‎terletak di pinggiran timur kota Beirut mengajak Sayyid Hussein Fadlullah untuk ‎tinggal di sana. Hussein Fadlullah menerima tawaran itu dan pada tahun itu juga ‎beliau memastikan untuk tinggal selamanya di sana.‎

Allamah Sayyid Hussein Fadlullah sejak masa mudanya tidak hanya mempelajari ‎ilmu-ilmu agama tapi juga mengkaji masalah-masalah yang berada di luar itu. ‎Dengan mendalami sastra membaca majalah-majalah seperti Al-Katib Taha ‎Hussein, beliau secara perlahan mengasah kemampuan menciptakan dan ‎melantunkan syair. Beliau juga menulis tiga buku syair. ‎

Pada tahun 2001, Allamah Fadlullah menerbitkan Jamatul Ulama Najaf, sebuah ‎majalah Kebudayaan-Islam, bersama-sama dengan Sayyid Muhammad Baqir ‎Shadr dan Syeikh Muhammad Mahdi Shamshuddin. Di tahun kedua, kolom utama ‎majalah tersebut bernama Kalimatuna (Ucapan kami). Sebelumnya, artikel utama ‎itu bernama Risalatuna (Risalah kami) dan ditulis oleh Sayyid Muhammad Baqir ‎Shadr. ‎

Allamah Fadlullah melanjutkan aktivitas penulisan artikel dan buku hingga enam ‎tahun. Di Irak beliau berperan urgen dalam pembentukan gerakan Syiah bersama ‎Sayyid Muhammad Baqir Sadr. Hasil dari perjuangan kedua tokoh tersebut, ‎akhirnya lahirlah gerakan Syiah Irak bernama Hizbud Dakwah Islamiyah.‎

Sekembalinya ke Lebanon pada tahun 1966, beliau mulai beraktivitas secara ‎meluas di bidang ilmiah, budaya, dan sosial, yang hingga kini meski telah 45 tahun ‎berlalu, dampak dan pengaruhnya masih dapat disaksikan. ‎

Dengan mengadakan berbagai pengajian, pelajaran tafsir al-Quran, agama, dan ‎akhlak, beliau mampu menciptakan perubahan hingga ke beberapa generasi di ‎Lebanon. Bahkan di satu kesempatan, beliau pernah mengatakan, “Saya bangga ‎karena ikut menggembleng sebagian besar pejuang dan pegiat agama.” ‎

Pembentukan sebuah pondok pesantren bernama al-Ma’had al-Shar’i al-Islami ‎dengan tujuan mendidik para pelajar agama, merupakan di antara upaya sosial-‎budaya beliau. Selain al-Ma’had al-Shar’i yang terletak di Beirut, Allamah Fadlullah ‎juga mendirikan hauzah akhwat di Beirut, Tyer dan al-Murtadha di Damaskus yang ‎disebut Sayyidah Zainab.‎

Sayyid Hussein Fadlullah hingga kini melahirkan lebih dari 70 karya yang bila ‎dikumpulkan menjadi lebih dari seratus jilid. Sebagian buku-buku beliau hasil ‎transkrim pidato dan sebagian lainnya merupakan catatan-catatan pelajaran fiqih ‎dan ushul fiqih tingkat tinggi yang ditulis oleh murid-muridnya.‎

Aktivitas Sosial

Selain kegiatan ilmiah, budaya dan politiknya di Lebanon Suriah, Sayyid Hussein ‎Fadlullah juga punya aktivitas sosial yang cukup luas. Beliau mengayomi anak-‎anak yatim, syuhada, cacat dan fakir miskin. Beliau mendirikan yayasan sosil ‎bernama Komunitas al-Mirats al-Khairiyah sekaligus menjadi pemimpinnya. ‎Dengan bantuan para donator dari negara-negara Arab Teluk Persia dan Lebanon, ‎Allamah Sayyid Hussein Fadlullah mendirikan sejumlah pusat dan yayasan sosial ‎yang modern untuk mendidik anak-anak yatim, khususnya anak-anak para syahid ‎dan anak-anak miskin. Allamah Fadlullah mendirikan rumah sakit, poliklinik dan ‎masjid-masjid.‎

Di pusat-pusat yayasan sosial ini, Ayatullah Fadlullah memberikan tempat tinggal ‎bagi mereka yang membutuhkan dan mereka melanjutkan pendidikannya di ‎kawasan ini.(IRIB/SL/MZ)‎

Imam ja’far as-hodiq berkata tentang kebaikan-kebaikan mengingat mati dan hari kebangkitan:

  • menekan berbagai keinginan
  • mencabut akar kelalaian dan kelesuan
  • berdasarkan janji allah mengingat mati dapat mengokohkan hati manusia
  • melembutkan jiwa yang membatu
  • menghapus berbagai keinginan dan menjaukan pelangaran
  • menekan sifat tamak setra menjadikan dunia ini tampak sederhana dalam pandangannya

setelah itu imam menukil kata-kata nabi SAW, “berfikir dan merenung sesaat lebih baik disbanding beribadah setahun”(bihar al-anwar.jil.Vi,hal.133)

maksudnya berfikir dan menyusun perancanaan kedepan lyaitu memikirkan masalah dan jawabannya serta pertanggung jawabannya dengan berpijak diatas landasan keadilan Allah SWT.

Kami membaca dalam hadis-hadis bahwa: orang-orang bijak yang berfikir adalah orang –orang syang selalu mengingat mati (bihar al-anwar,jil.vI,hal.135).

Takkala nabi SAW menyabdakan bahwa hati juga dapat berkarat seperti besi,mereka bertanya dengan apakah  dia dapat dibersihkan?nabi menjawab”dengan mengingat ati dan membaca al-quran.dan hadis lain juga diriwayatkan oleh rosul adalah “senang tiasalah mengingat mati karna ia mempunyai  4 dampak” Read the rest of this entry »

Surga dan Neraka

Posted: July 9, 2010 in artikel islami

Surga

Surga adalah tempat bagi orang-orang yang baik dan layak. Berbagai jenis kenikmatan dan sarana-sarana kemudahan dan kesenangan disediakan disana. Apa saja yang manusia inginkan dan bayangkan pasti ada. Kenikmatan surgawi adalah lebih tinggi dan baik dari kenikmatan duniawi. Tiada seorangpun yang melihat dan mendengarnya. Disana tiada kesedihan dan kesulitan yang ditemukan disurga. Barang siapa yang masuk surga kehidupanya akan abadi dan berada disana untuk selama-lamanya. Surga memiliki derajat-derajat yang berbeda dan setiap orang akan diberi tempat sesuai dengan keutamaan dan kesempurnaan jiwa dan amal perbuatan yang soleh.

Neraka

Neraka adalah tempat yang diperuntukkan orang-orang kafir, penjahat,dan pendosa. Segala jenis siksaan dan hukuman dapat disaksikan disana. Orang-orang yang dimasukkan dineraka mereka akan disiksa dalam puncak penderitaan dan kesusahan. Siksaan neraka itu sedemikian menakutkan dan pedihnya sehingga tiada yang dapat menggambarkan dan membayangkannya. Api neraka bukan hanya membakar tubuh, melainkan ia juga membakar ruh dan jiwa manusia serta bermuara dari batin zat dan seluruh wujudnya terbakar oleh api neraka.

Ahli neraka ada dua golongan: golongan pertama, yakni orang-orang kafir dan orang-orang yang sama sekali tidak memiliki cahaya iman dan penyembahan kepada tuhan yang esa secara total. Golongan ini berada dineraka dan dalam siksaan yang pedih untuk selamanya. Golongan ini tidak memiliki jalan keluar untuk menyelamatkan diri. Golongan kedua, adalah orang-orang yang bertauhid dan menyebah tuhan dan beriman, namun lantaran lemahnya iman mereka melakukan dosa dan maksiat dan mereka layak merasakan siksa neraka.

Dua golongan ini secara temporal disiksa dineraka dan akhirnya cahaya iman akan mengalahan kegelapan dosa dan melalui ampunan langsung dari tuhan semesta alam ataupun syafaat para nabi pilihan. Mereka selamat dari api neraka dan masuk kesurga.

Neraka memiliki banyak derajat dan siksaannya bermacam-macam. Setiap orang ditempatkan sesuai dengan kadar dosanya dan disiksa tergantung besar dosanya dan disiksa tergantung besarnya dosanya.

–    Adanya rencana menggulingkan Ali As.

Dengan memperhatikan beberapa poin di bawah ini, dapat di mengerti bahwa ada rencana yang matang untuk menggulingkan Imam Ali dari kekholifahan :

Kehadiran mereka yang terus-menerus di sisi Nabi dan berusaha untuk mengagalkanupaya Nabi untuk menyokong kepemimpinan Ali. hal itu dapat di temukan pada fitnah yang terjadi di kediaman Nabi dengan semboyan yang di lontarkan Umar, bahwa kita cukup dengan Al-Qur’an saja. Kemudian ia menambahkan bahwa apa yang ingin di ucapkan Nabi sudah tidak ada kesadaranya lagi. Nabi mengigau akibat sakit yang di deritanya. Oleh karenanya, ketika Nabi berkata : “ bawakan aku alat tulis dan kertas “, malah terjadi keributan karena ucapan Umar, yang pada akhirnya membuat banyak orang termakan dengan isu yang di buatnya. Tujuan penting dari ucapan Umar adalah timbulnya keragu-raguan dari orang-orangdi sekeliling Nabi dan mencegah Nabi untuk tidak menuliskan wasiat.

  1. Setelah terbentuknya pemerintahan pasca peristiwa Saqifah dan Abu Bakar menjadi kholifah, Abu ubaidah menjabat sebagai mentri keuangan dan Umar sebagai ketua mahkamah agung. Ke 3 posisi ini sangat vital dalam sebuah pemerintahan di negara. Kombinasi ini tidak mungkin muncul begitu saja tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu.
  2. Abu Bakar tahu akan keutamaan Imam Ali dan haknya atas kekhilafahan. Dan Allah memilih untuk Nabinya seorang wakil, kemudian Nabi menyempurnakan janji Allah SWT dengan mengangkat Imam Ali sebagai kholifah setelahnya, dan semua argumentasi telah di keluarkan untuk menetapkan hingga ajal menjemputnya, Abu Bakar dan Umar adalah orang pertama yang merampas hak Ali dan menentang perintah Nabi. Abu Bakar dan Umar telah bersepakat sebelumnya. Kemudian keduanya meminta baiat dari Ali. Ali hanya menundukkan kepala sebagai tanda ke engganannya membaiat keduanya. Hal ini menyebabkan Abu Bakar dan Umar seakan di landa masalah besarhingga berpikir untuk merekayasa kejadian yang lebih besar terhadap Ali.

Read the rest of this entry »